Sudah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, namun pertanyaan tentang apa artinya merdeka bagi seorang perempuan, seorang ibu, dan sebuah keluarga, jarang sekali kita renungkan dengan sungguh-sungguh. Setiap Agustus, bendera merah putih berkibar di halaman rumah, jalan desa, hingga sekolah-sekolah. Upacara digelar dengan khidmat san sukacita. Berbagai kegiatan seperti lomba balap karung dan tarik tambang menghidupkan suasana kampung, dan kata "merdeka" bergema dari pengeras suara masjid dan menara gereja. Namun di tengah gegap gempita itu, saya sering tertegun dan bertanya dalam-dalam, apakah kemerdekaan itu sekadar seremoni tahunan, ataukah ia sebuah panggilan harian yang menuntut kita mewujudkannya dalam kerja nyata? Delapan puluh satu tidaklah muda, tapi sudah hampir satu abad.
Sebagai dosen pendidikan Islam yang dalam setiap kesempatan berdialog dengan mahasiswa tentang pendidikan karakter, sebagai perempuan yang gelisah pada perkembangan diri dan pengasuhan anak, serta sebagai perempuan yang bergelut di sejumlah komunitas perempuan dan kemanusiaan di Sumatera Barat, saya telah belajar bahwa kemerdekaan memiliki banyak lapis makna. Dan lapisan yang paling dekat dengan denyut kehidupan kita, bahkan paling menentukan nasib bangsa ke depan adalah kemerdekaan yang tumbuh dari keluarga, dari hati para perempuan, dan dari semangat literasi yang membuka pikiran.
![]() |
| Sumber: Dokumentasi Mahasiswa Kelas MPQH B Tahun 2 |
Merdeka bukan hanya soal lepas dari penjajah. Para pendiri bangsa juga telah mewariskan pengertian kemerdekaan yang lebih dalam. Soekarno pernah menegaskan bahwa kemerdekaan hanyalah "jembatan emas" menuju masyarakat adil dan makmur. Di atas jembatan itu, tugas kita justru dimulai, bukan berakhir. Salah satu penjajah yang paling pelit dan paling bertahan lama bukanlah bangsa asing, melainkan ketidaktahuan. Banyak keluarga kita masih terjajah oleh kebiasaan membaca hanya ketika ujian, berpikir sekadar ikut-ikutan tren, dan menerima informasi tanpa menyaring. Anak-anak tumbuh dikelilingi layar gawai yang lebih sering menjerat perhatian mereka ketimbang buku yang membuka pikiran. Maka mencintai ilmu melalui membaca adalah cara paling sederhana untuk merebut kembali kemerdekaan anak-anak dari jerat kebodohan. Setiap buku yang dibacakan adalah seutas tali yang menarik anak keluar dari kegelapan literasi, sekaligus menanamkan karakter empati, keberanian, kejujuran, dan imajinasi. Ketika seorang ibu membacakan cerita kepada anaknya sebelum tidur, ia sedang menjalankan tugas kenegaraan yang paling fundamental mencerdaskan kehidupan bangsa, persis seperti yang diamanatkan oleh UUD 1945.
Merdeka Berarti Perempuan yangMengembangkan Diri
Berdiam diri saja tidak akan mampu membuat diri kita bertumbuh, menyadari hal tersebutlah Saya terus beikut aktif dalam berbagai organisasi dan komunitas. Seperti bergabung dengan Salimah, Persaudaraan Muslimah yang merupakan salah satu organisasi Perempuan yang ada di Indonesia yang ikut berkontribusi aktif dalam peningkatan kualitas hidup perempuan, anak, dan keluarga Indonesia (Salimah.id). Selain itu saya juga ikut menempa diri di Institut Ibu Profesional yang memiliki visi menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul & profesional sehingga dapat berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga. Kemudia juga ikut berada dalam komunitas kemanusiaan, Komunitas Sahabat Alquds Sumbar yang ikut menyuarakan untuk kemerdekaan Palestina bersama Adara Relief Internasional. Serta juga aktif dalam komunitas literasi komunitas Read Aloud khususnya di Sumatera Barat yaitu Komunitas Sumbar Membacakan Nyaring. Dari pergaulan ini, saya semakin yakin bahwa salah satu bentuk penjajahan modern terhadap perempuan adalah anggapan bahwa dunia perempuan cukup sempit, mengurus rumah, mengasuh anak dan tidak perlu peroleh pengetahuan lebih.
Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam telah memberikan teladan paling agung tentang peran perempuan. Misalnya Ibunda Khadijah bukan hanya seorang pebisnis ulung, tetapi juga pemikir yang mendukung dakwah dengan harta dan jiwa. Ibunda Aisyah dikenal sebagai rujukan ilmu bagi para sahabat, bahkan dalam persoalan-persoalan paling rumit. Pun Maryam, yang disebut sebagai wanita terbaik di zamannya, menunjukkan kekuatan jiwa dan keteguhan ibadah. Sejarah Islam membuktikan bahwa perempuan tidak pernah dikekang untuk berkembang. Justru, perempuan yang berilmu adalah perempuan yang Merdeka,merdeka berpikir, merdeka berkarya, dan merdeka menentukan arah hidupnya, tanpa meninggalkan peran fitrahnya sebagai pendidik utama di keluarga. Self development bagi ibu dan perempuan bukan gaya hidup hedonis atau sekadar tren motivasi. Ia adalah jalan memuliakan diri dan keluarga. Ibu yang membaca, menulis, belajar keterampilan baru, dan memupuk kesehatan jiwanya akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Di rumah, merekalah menteri pendidikan sejati, merekalah yang menanamkan adab sebelum ilmu, dan karakter sebelum prestasi. Bangsa ini tidak akan pernah benar-benar merdeka jika kaum ibundanya masih terkurung dalam ketidaktahuan tentang diri, anak, dan zamannya.
Kemerdekaan Sejati Tumbuh dari Keluarga
Sebagai pendidik keluarga, saya melihat bahwa keluarga adalah sel pertama bangsa. Jika keluarga sakit, bangsa sakit. Jika keluarga merdeka secara pikiran dan sehat secara karakter, bangsa akan tegak. Di sinilah peran pendidikan karakter menemukan urgensinya. Kemerdekaan yang diwarnai hoaks, perpecahan, intoleransi, dan kekerasan di media sosial menunjukkan bahwa kita belum selesai merdeka dalam hal akhlak. Karakter yang dibentuk oleh keluarga seperti jujur, disiplin, peduli, adil, mencintai kedamaiana dan peduli dalah benteng paling kokoh terhadap segala bentuk penjajahan baru, baik itu penjajahan pikiran, budaya konsumerisme, maupun ideologi yang mengoyak persatuan. Pendidikan Islam mengajarkan bahwa setiap manusia lahir dengan fitrah yang suci. Tugas keluarga dan masyarakat adalah menjaga fitrah itu tetap merdeka berkembang. Ketika seorang ayah mengajarkan shalat dan cinta Al-Quran, ketika seorang ibu mengajarkan berpuasa dan berbagi, sesungguhnya mereka sedang membangun generasi yang merdeka dari hawa nafsunya sendiri. Dan inilah kemerdekaan paling tinggi: menjajah diri sendiri dengan ilmu dan iman, sebagaimana pesan para ulama kita.
Mengenang Palestina: Saat Kemerdekaan Terasa sebagai Amanah dan Kemerdekaan Palestina adalah Hutang Kita
Namun ada satu pertanyaan yang setiap tahun hadir dalam pikiran saya menjelang Agustus, dan semakin berat rasanya untuk dijawab. Ketika anak-anak kita berebut mengibarkan bendera plastik di jalanan, ribuan anak di Gaza justru berebut bertahan hidup di tengah puing. Ketika kita mengisi kemerdekaan dengan lomba dan pesta, mereka mengisi hari-harinya dengan menghitung berapa jatah air dan roti yang tersisa, dan bertanya dalam diam, “kapan giliran kami untuk merdeka?” Membaca laporan kemanusiaan atau menyaksikan wajah-wajah di Gaza sungguh tidak nyaman dan justru di situlah letak manfaatnya bagi kita yang sudah merdeka delapan puluh tahun lebih. Rasa tidak nyaman itulah pengingat bahwa kemerdekaan kita bukan hadiah yang selesai dinikmati, melainkan amanah yang menuntut syukur dalam bentuk aksi. Di Gaza, perempuan-perempuan menggendong anak-anak mereka keluar dari reruntuhan rumah, lalu menuntun mereka kembali mengaji di tenda darurat. Seorang ibu yang kehilangan segalanya tetap menyanyikan doa untuk anaknya sebelum tidur, karena ia tahu bahwa akalnya bisa dirampas, hartanya bisa hangus, tetapi iman dan karakter yang ditanamkannya tidak akan pernah bisa dijajah. Bukankah inilah gambaran paling gamblang tentang apa itu kemerdekaan sejati? Kemerdekaan yang tidak selalu bergantung pada bendera, melainkan pada hati yang tetap tegak.
Lalu ada Masjidil Aqsa, kiblat pertama umat Islam, yang telah lama menanggung beban sejarah lebih berat daripada tembok-temboknya yang gagah. Al-Aqsa pernah menjadi tempat Rasulullah berpijak sebelum mi'raj, ia menjadi saksi peradaban Islam dan Kristen selama berabad-abad. Hari ini ia masih menunggu-nunggu umatnya yang tidak hanya merindukannya dalam rindu lisan, tetapi menghampirinya dengan doa, ilmu, dan keberpihakan. Merindukan Al-Aqsa tanpa mau berikhtiar menjaganya hanya akan menjadi romantisme yang kosong. Sebab para pendahulu kita membuktikan bahwa mencintai tempat suci berarti berbuat untuknya. Mereka yang mencintai Masjidil Aqsa-lah yang menulis "Jangan sampai dijajah!" menjadi semangat untuk merebut kemerdekaan itu sendiri, demi satu prinsip "Kemerdekaan adalah hak segala bangsa." Akhirnya kita memahami bahwa Palestina bukan sekadar berita yang lewat di linimasa dan hilang ditelan viralitas berikutnya. Palestina adalah saudara. Dan bagi kita di Indonesia, saudara yang ditindas tidak cukup hanya didoakan sambil lalu; ia harus dihadirkan kembali di meja makan kita, di majelis ilmu kita, di kelas-kelas kita, dan di hati anak-anak kita.
Mengajarkan Kepedulian pada Anak dari Rumah
Di sinilah peran ibu dan pendidik menemukan panggilan yang paling konkret. Kepedulian terhadap Palestina harus diajarkan, bukan sekadar diharapkan tumbuh sendiri. Ketika kita membacakan dongeng kepada anak, sisipkanlah cerita tentang Rania atau Omar, anak-anak Gaza yang tetap gemar mengaji dan bermimpi di tengah ujian. Ketika kita mengajar di kelas, ajaklah mahasiswa berdiskusi tentang makna keadilan yang tidak mengenal perbatasan. Ketika kita menulis artikel atau menggalang bantuan, jadikan anak-anak kita saksi dan sekaligus mitra kecilnya.
Pendidikan karakter yang kita perjuangkan akan kehilangan ruhnya jika tidak melahirkan empati yang melampaui pagar rumah sendiri. Anak yang terbiasa berbagi dengan anak-anak Gaza walau hanya dengan menabung recehnya untuk mereka sedang belajar bahwa kemerdekaan memiliki arti paling mulia. Berdiri sendiri supaya dapat membantu orang lain berdiri. Inilah kalimat Bung Karno yang paling tepat untuk dituliskan di dinding hati generasi penerus kita.
Refleksi: Merdeka Berarti Terus Bertumbuh
Pada akhirnya, esai ini hanyalah sebuah refleksi kecil dari perjalanan saya yang biasa. Saya bukan siapa-siapa, hanya seorang dosen, seorang ibu, seorang perempuan yang mencoba memahami kemerdekaan lewat kacamata sederhana; melalui buku yang dibacakan, karakter yang ditanamkan, perempuan yang diberdayakan, dan tangan yang diulurkan kepada saudara-saudara kita di Gaza yang masih merindukan kemerdekaan yang kita miliki. Namun justru dari yang sederhana itulah kemerdekaan yang besar tersusun. Merdeka berarti berusaha terus. Merdeka berarti tidak berhenti belajar. Merdeka berarti menjadikan keluarga sebagai miniatur negara yang damai, menjadikan perempuan sebagai pilar peradaban, dan menjadikan literasi, kepedulian, serta kemanusiaan sebagai jalan cinta kepada Tanah Air dan kepada umat manusia yang satu rumpun dengannya.
Di hari kemerdekaan ini, agar kita tidak hanya mengibarkan bendera, tetapi juga mengibarkan ilmu. Tidak hanya menyanyikan Indonesia Raya, tetapi juga membangkitkan jiwa-jiwa yang raya, jiwa para ibu yang berdaya, jiwa anak-anak yang gemar membaca, dan jiwa-jiwa kemanusiaan yang tidak tega melihat Gaza terus menjerit dan Al-Aqsa terus menunggu.
Dirgahayu Indonesiaku. Merdeka dengan ilmu, merdeka dengan iman, merdeka dengan cinta.
Oleh: Yudelnilastia






Posting Komentar