Emang Benar Syarat Kelayakan Perempuan untuk Dijadikan Calon Isteri Bisa Bermotor dan Pasang Tabung Gas? Yuk Kita Bahas!




 

Alhamdulillah, 2026 

Sudah 2026, Alhamdulillah. Gak terasa waktu cepat bergulir. Keluarga kecil kami yang baru berlima di 2025, dan sekarang alhamdulillah sudah berenam di tahun 2026. Trus, 2027? Eits, jangan ditanya. Didoakan saja, maksudnya doakan yang terbaik. Karena jumlah bukan syarat mutlak penentu kebaikan.

Tapi saat ini saya bukan mau membahas terkait penambahan anggota keluarga seiring bertukarnya tahun. Bukan, bukan itu. Tapi saya mau mencurahkan isi hati dan kepala saya yang mulai terusik oleh pernyataan seseorang bahwa mencari calon istri itu selain syarat sesuai dengan tuntunan Rasulullah (agamanya, kecantikannya, keturunannya, hartanya dan jabatannya) maka ada syarat tambahan, yaitu dia harus bisa mengendarai motor dan pasang tabung gas.

What? (Ekspresi melotot) Begitukah? Emang mau cari istri atau asisten teknis?

Sambil berseloroh saya jawab, wah kalau saya udah langsung didiskualifikasi ini, karena saya dua²nya gak bisa🤤. Saya mau tanya nih sama Sobat Cendekia yang budiman,

APAKAH PEREMPUAN YANG TIDAK BISA BAWA MOTOR DAN TIDAK BISA MEMASANG TABUNG GAS TIDAK LAYAK DIJADIKAN SEBAGAI CALON ISTERI?

Memang sih ada mitos lama yang entah kenapa masih betah nongkrong di kepala sebagian orang: perempuan yang tidak bisa bawa motor dan tidak bisa pasang gas itu tidak layak dijadikan istri. Seolah kelayakan berumah tangga ditentukan oleh kemampuan membuka baut, bukan oleh kedewasaan jiwa.

Apa Benar Bisa Bawa Motor dan Bisa Memasang Gas, Syarat Tambahan untuk Kriteria Mencari Calon Isteri?

Mari kita bedah dengan kepala dingin dan sedikit senyum. 

Pertama, Kemampuan Teknis itu Kontekstual

Mengendarai motor dan memasang gas adalah skill, bukan fitrah. Skill lahir dari kebutuhan, lingkungan, dan kesempatan belajar. Banyak laki-laki jago naik motor karena sejak remaja dituntut mandiri di jalan. Banyak perempuan tidak belajar karena memang tidak perlu, bukan karena tidak mampu. Menukar konteksnya sebentar saja sudah kelihatan absurd: apakah laki-laki yang tidak bisa memasak nasi otomatis tidak layak jadi suami? Apakah perempuan yang tidak bisa menyolder kabel lantas gagal secara eksistensial?

Kedua, pernikahan bukan lomba survival mekanik. 

Pernikahan adalah kerja sama jangka panjang antara dua manusia yang sama-sama rapuh, sama-sama belajar. Dalam sosiologi keluarga, yang menentukan keberlanjutan rumah tangga bukan kemampuan teknis individual, melainkan kualitas relasi: komunikasi, empati, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan konflik. Motor mogok bisa didorong ke bengkel. Rumah tangga mogok butuh akal sehat dan hati yang lapang. Kalau dalam perspektif pendidikan Islam, kelayakan utama adalah kemampuannya menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. 

Ketiga, Ada Jebakan Maskulinitas dan Feminitas Semu 

Standar “istri ideal” yang diukur dari fungsi-fungsi teknis sering kali lahir dari kecemasan, bukan kebijaksanaan. Sama juga halnya ketika ada yang mengatakan tanda siap atau tidaknya seseornag enikah adalah ketika ia sudah mampu mengangkat galon. Seakan-akan nilai perempuan harus dibuktikan lewat utilitas praktis, bukan karakter. Padahal dalam pendidikan Islam maupun filsafat moral modern, nilai manusia melekat pada akhlak dan kesadaran, bukan pada daftar keterampilan. Ironisnya, banyak perempuan yang “tidak bisa bawa motor” justru piawai mengelola emosi, mengatur ritme keluarga, dan menumbuhkan rasa aman dan hal-hal yang tidak bisa diperbaiki dengan kunci Inggris. Sebaliknya, ada yang jago pasang gas, tapi gagal “memasang” komitmen.

Jadi, layak atau tidaknya seseorang dijadikan pasangan hidup bukan soal bisa menstarter motor, tapisoal bisa menstarter kepercayaan. Bukan soal cekatan di bengkel, tapi tangguh di badai. Skill bisa diajarkan dalam satu sore. Akhlak dan kedewasaan butuh proses seumur hidup. Kalau masih bersikeras menilai calon istri dari urusan gas dan motor, mungkin yang dicari bukan pasangan hidup melainkan asisten teknis. Dan itu cerita lain sama sekali.

Hayook, boleh nih tanggapan kalian apa?

Maaf agak berapi-api saya jadinya. Kenapa? Karena kalaulah Pak Adri juga memasang syarat tambahan serupa, gak mungkin bisa sampai seperti di foto ini :)

2026 berenam, Alhamdulillah

 

 

‹ Lebih lamaTerbaru ✓

Posting Komentar

Terimakasih Sobat Cendekia telah menjadi "kawan untuak baiyo" :)